Melakukan Perencanaan Energi Listrik Menggunakan LEAP (Bagian 2)

13 01 2012

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya mengenai perhitungan demand menggunakan LEAP ketika data yang kita miliki hanya data pelanggan listrik dan KWh konsumsinya. Boleh dilihat lagi di http://akhisuhono.wordpress.com/2012/01/03/melakukan-perencanaan-demand-energi-listrik-menggunakan-leap/ .

Menggunakan data KWh dan jumlah pelanggan, akan diperoleh intensitas energi dengan rumus di atas. Data tersebut yang akan digunakan untuk masukan ke dalam LEAP.

Untuk masukan data di LEAP, saya asumsikan teman-teman sudah mengerti bagaimana cara menyetel awal LEAP untuk parameter dasarnya. Sehingga kita tinggal mulai untuk membuat Tree dan input datanya.

1. Membuat Rancangan Tree

Sebelum membuat Tree di dalam LEAP, sebaiknya kita buat terlebih dahulu rancangannya. Contoh berikut ini menggunakan cara perhitungan yang pertama (silakan dilihat di posting sebelumnya). Misalnya rancangannya seperti di bawah ini:

Branch Category Sub Branch Unit Keterangan
Key Assumption Intensitas Energi -       Intensitas Energi Bisnis KWh/Pelanggan
-        Intensitas Energi Industri KWh/Pelanggan
-       Intensitas Energi Publik KWh/Pelanggan
-       Intensitas Energi Sosial KWh/Pelanggan
-       Intensitas Energi Rumah Tangga KWh/Pelanggan
Pelanggan -       Pelanggan Bisnis Pelanggan
-       Pelanggan Industri Pelanggan
-        Pelanggan Publik Pelanggan
-       Pelanggan Sosial Pelanggan
-        Pelanggan Rumah Tangga Pelanggan
Demand - -        Bisnis KWh Intensitas Energi Bisnis x Pelanggan Bisnis
- -        Industri KWh Intensitas Energi Industri x Pelanggan Industri s
- -        Publik KWh Intensitas Energi Publik x Pelanggan Publik
- -        Sosial KWh Intensitas Energi Sosial x Pelanggan Sosial
- -        Rumah Tangga KWh Intensitas Energi Rumah Tangga x Pelanggan Rumah Tangga

 

2. Membuat Tree dalam LEAP

Berpedoman pada Tree yang sudah dibuat sebelumnya, kita bisa mulai membuat Tree pada LEAP. Berikut ini saya berikan contoh screenshot dari Tree di atas,

3. Mengeset unit

Setelah Tree selesai dibuat, maka selanjutnya adalah mengeset unitnya. Untuk Key Assumption, unitnya sudah dapat kita set di saat awal membuat Tree.

Karena pada contoh ini masih sangat sederhana, maka untuk set unitnya adalah mudah. Untuk semua unit pada demand dibuat menjadi ‘saturasi’. ‘Saturasi’ maksudnya adalah nilai prosentase dari total branch yang dimaksud dan tidak terkait atau berbagi dengan branch yang lain. Hal ini kebalikannya dari ‘Share’ yang berarti nilai prosentasenya akan berbagi dengan branch lain yang satu level.

Screenshotnya sebagai berikut,

4. Masukan data nilai dasar pada Expression

Untuk memasukkan data nilai dasar saya langsung kasih contoh sebagai berikut,

Branch Category Sub Branch Unit Nilai Dasar Ekspresi
Key Assumption Intensitas Energi -       Intensitas Energi Bisnis KWh/Pelanggan 200 Growth 4%
-        Intensitas Energi Industri KWh/Pelanggan 1000 Growth 4%
-       Intensitas Energi Publik KWh/Pelanggan 150 Growth 4%
-       Intensitas Energi Sosial KWh/Pelanggan 100 Growth 4%
-       Intensitas Energi Rumah Tangga KWh/Pelanggan 80 Growth 4%
Pelanggan -       Pelanggan Bisnis Pelanggan 300 Growth 3%
-       Pelanggan Industri Pelanggan 50 Growth 3%
-        Pelanggan Publik Pelanggan 150 Growth 3%
-       Pelanggan Sosial Pelanggan 100 Growth 3%
-        Pelanggan Rumah Tangga Pelanggan 1500 Growth 3%
Demand -        Bisnis KWh Intensitas Energi Bisnis x Pelanggan Bisnis -
-        Industri KWh Intensitas Energi Industri x Pelanggan Industri s -
-        Publik KWh Intensitas Energi Publik x Pelanggan Publik -
-        Sosial KWh Intensitas Energi Sosial x Pelanggan Sosial -
-        Rumah Tangga KWh Intensitas Energi Rumah Tangga x Pelanggan Rumah Tangga -

Pada Demand, untuk Final Energy Intensity dapat digunakan rumus berikut:

Key\Intensitas Energi\Intensitas Energi Bisnis*Key\Pelanggan\Pelanggan Bisnis

Begitu juga untuk Demand Industri, Publik, Sosial dan Rumah Tangga. Hal ini menyatakan bahwa nilai demand dihitung dari hasil perkalian Intensitas Energi dan Pelanggan.

5. Set scenario dan asumsi

Untuk set scenario kita bisa klik tool ‘Manage Scenario’. Kemudian ‘Add’ scenario BAU sebagai scenario dasarnya. Setelah selesai, maka klik ‘Close’. Kita sudah siap untuk melakukan input ekspresi pertumbuhan Intensitas Energi dan Pelanggan.

Pastikan bahwa mode berada pada scenario BAU, kemudian masukan ekspresi Growth (4%) untuk Intensitas Energi dan Growth (3%) untuk Pelanggan.

Selain scenario BAU, dapat juga ditambahkan scenario yang lain sesuai keinginan kita.

6. Melihat hasil

Setelah scenario ditentukan, maka selanjutnya adalah melihat hasil. Caranya dengan klik jendela ‘Result’. Hasilnya….

Demikian sedikit yang dapat saya bagi. Memang mungkin terasa kurang komunikatif, harap maklum saya sedang belajar menulis. Namun, mudah-mudahan semua bisa bermanfaat.

Program hasil simulasi contoh ini dapat diunduh di sini: Freedonia Gaya Baru

Caranya file diekstrak dan kemudian dicopy dan paste ke folder My Documents\LEAP Areas\.

Terima kasih..





Melakukan Perencanaan Demand Energi Listrik Menggunakan LEAP

3 01 2012

LEAP akhir-akhir ini sudah menjadi tool yang difavoritkan dalam melakukan perencanaan energi. Kalau kita menilik secara garis besar, perencanaan energi menggunakan LEAP terbagi menjadi 3 bagian utama, yaitu Perencanaan Kebutuhan Energi, Perencanaan Pembangkitan dan Perencanaan Sumber Daya Energi. Masing-masing bagian memiliki karakteristik dengan variable-variabel yang berbeda. Keunikan LEAP adalah mampu mengakomodasi kebutuhan kita yang mungkin memiliki kelengkapan data dan jenis pemodelan yang khusus. Namun, keunikan itulah yang kadang-kadang membawa kita terjebak pada kebingungan dalam memahami simulasinya.

Pada kesempatan ini, saya ingin sedikit berbagi saja mengenai perencanaan kebutuhan energi (demand). Mungkin dalam memahami dan menulis saya ada kesalahan, mohon diberikan koreksi dan masukan.

Seperti yang terdapat di dalam manual/user guide LEAP, kebutuhan beban/energi dihitung berdasarkan Activity Level dan Energy Intensity. Secara matematis menjadi

Konsumsi Energi Total = Tingkat Aktivitas x Intensitas Energi,

Atau jika dalam bahasa Inggris menjadi,

Total Energy Demand = Activity Level x Energy Intensity

Sebagai contoh jika kita ingin merencanakan kelistrikan, biasanya (di Indonesia) kita terbatas data berapa konsumsi masing-masing peralatan yang ada, seperti TV, Lampu, Kulkas, dll. Biasanya yang bisa kita dapatkan adalah data pelanggan PLN yang terdiri dari:

  1. Pelanggan Sektor Sosial
  2. Pelanggan Sektor Rumah Tangga
  3. Pelanggan Sektor Industri
  4. Pelanggan Sektor Publik
  5. Pelanggan Sektor Bisnis

Selain itu data lain yang menyertainya adalah sebagai berikut:

  1. Data KWh pemakaian listrik Sektor Sosial
  2. Data KWh pemakaian listrik Sektor Rumah Tangga
  3. Data KWh pemakaian listrik Sektor Industri
  4. Data KWh pemakaian listrik Sektor Publik
  5. Data KWh pemakaian listrik Sektor Bisnis

Nah, kali ini saya akan mencoba berbagi simulasi dengan keterbatasan data seperti di atas.

Jika kita memiliki data pelanggan dan pemakaian listrik di suatu daerah, misalnya Freedonia Gaya Baru sebagai berikut:

Tahun

BISNIS

INDUSTRI

PUBLIK

SOSIAL

Rumah

JUMLAH

tangga

PEMAKAIAN TENAGA LISTRIK (GWh)

2006

119,30

92,05

27,99

23,92

311,90

575,16

2007

120,58

102,81

31,39

31,37

333,44

619,58

2008

124,89

114,52

35,59

31,25

356,60

662,84

2009

144,03

114,43

35,77

36,60

384,75

715,57

PELANGGAN

2006

10053

166

687

4612

221649

237167

2007

10077

172

755

4736

227920

243660

2008

10976

175

838

5028

233515

250532

2009

11569

187

914

5108

241743

259521

Pengolahan data untuk masukan simulasi menggunakan LEAP adalah menghitung intensitas energi dan pertumbuhannya serta jumlah pelanggan dan pertumbuhannya.  Intensitas energi merupakan rata-rata tahunan konsumsi energi (Energy Consumption=EC) per unit aktivitas (activity level). Secara matematik ditunjukkan dengan persamaan berikut,

EI = EC/activity level

Lalu bagaimana menghitungnya untuk data yang kita miliki di atas? Perhitungan Intensitasnya sangat sederhana, yaitu

Intensitas Energi = KWh/Jumlah Pelanggan

Perhitungan pertumbuhan intensitas energi menggunakan Persamaan berikut,

Pertumbuhan EI = ((EI tahun berlaku – EI tahun sebelumnya)/EI tahun sebelumnya)x100%

Untuk perhitungan pertumbuhan jumlah pelanggan menggunakan persamaan yang hampir sama dengan perhitungan pertumbuhan intensitas energi.

Pertumbuhan EI = ((pelanggan tahun berlaku – pelanggan tahun sebelumnya)/pelanggan tahun sebelumnya)x100%

Setelah diperoleh pertumbuhan dari pelanggan dan intensitas energi masing-masing tahun, kemudian dihitung rata-rata pertumbuhannya. Rata-rata pertumbuhan (Growth-rate) inilah yang digunakan dalam simulasi. Rata-rata pertumbuhan dihitung menggunakan Persamaan berikut,

Rata-rata = jumlah nilai data pertumbuhan/banyaknya data

Setelah kita memiliki data jumlah level aktivitas (pelanggan) dan pertumbuhannya, serta data intensitas energi listrik (KWh/pelanggan) dan pertumbuhannya, maka kita siap untuk melakukan input data ke LEAP.

Sebelum input data ke LEAP kita perlu menentukan konsep perhitungan demand ditentukan oleh variable apa. Dalam melakukan simulasi, ADA BANYAK CARA YANG DAPAT DIGUNAKAN. Misalnya seperti ini,

  1. Konsumsi energi listrik ditentukan oleh PERTUMBUHAN PELANGGAN dan PERTUMBUHAN INTENSITAS ENERGI LISTRIK, sehingga KONSUMSI ENERGI LISTRIK (TAHUN t) = JUMLAH PELANGGAN (TAHUN t) x INTENSITAS ENERGI LISTRIK (TAHUN t) dengan masing-masing tahun jumlah pelanggan dan Intensitas energinya tumbuh.
  2. Konsumsi energi listrik di tahun-tahun simulasi ditentukan oleh pertumbuhan konsumsi listrik itu sendiri, sehingga input data yang diperlukan bisa berbeda dengan cara di atas.
  3. Dan masih banyak lagi cara yang bisa digunakan.

Bagaimana input data ke LEAP, Insya Alloh akan saya tulis pada kesempatan berikutnya.

Referensi :

Suhono. Kajian Perencanaan Permintaan dan Penyediaan Energi Listrik di Wilayah Kabupaten Sleman Menggunakan Perangkat Lunak LEAP. Skripsi, Jurusan Teknik Fisika Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta,2010.

http://energycommunity.org/





LEAP User Guide 2011

22 12 2011

Posting saya kali ini mungkin bukan sesuatu yang baru. Seperti kita ketahui bahwa tahun 2011 ini, dirilis software LEAP seri terbaru dengan nomor seri 2011.xx. Untuk saat ini, kalau saya tidak salah, sudah sampai pada seri 2011.34.

Pada halaman ini saya hanya ingin berbagi LEAP Guide untuk seri 2011 tersebut. Dari beberapa kali mencoba LEAP 2011.xx, memang ada beberapa perubahan. Perubahan yang saya temui ketika mencoba adalah pada bagian Load Curve. Jika p[ada seri sebelumnya kita menjumpai sebuah grafik Load Curve (kurva beban) yang nilainya bisa kita masukan, pada seri 2011 ini kita diberikan pilihan metode kurva beban apa yang kita gunakan. Secara spesifik mungkin akan dibahas pada posting berikutnya. Semoga ini bisa bermanfaat.

Link LEAP Guide 2011 dapat diunduh di sini  atau di sini

 

Secara keseluruhan, perubahan untuk seri 2011 ini adalah sebagai berikut:

(data saya copy langsung dari http://energycommunity.org/default.asp?action=9&read=2408&fid=28)

 

Changes Since V2011.024================================

2011.034 10/4/2011

* Fixed expression inheritance issues in Endogenous Capacity screen. The list of processes was not being properly inherited from parent scenarios.
* Fixed problems importing from earlier v2008 format data files, which was causing some data to be improperly imported or lost.
* Improved chart labeling in Analysis view when showing results for only a single branch.
* Fixed problems drawing charts for time-sliced variables.
* Fixed error messages in Yearly Shapes screen.
* Fixed problems when using non-English formatted numbers in the General: Basic Parameters screen.
* Improved API to allow results references to be filtered by fuel, gas, and region.
* Fixed various bugs in the script manager.
* Scripting now disabled in evaluation version.
* Fixed branch hiding/showing for multi-region data sets.
* Various changes to eliminate obsolete components and prepare for update to new version of Delphi.
* Fixed various minor problems in the TED view.
* Fixed printing of TED Tree.
* Fixed occasional problems dragging main LEAP window on systems with multiple monitors.

2011.033 8/19/2011

* Fixed calculation errors with checksums.

2011.032 8/17/2011

* Fixed range check error when using Remainder function in complex Key Variable folder structures.
* Fixed problem when using heat rates to specify efficiency data in conjunction with the OSeMOSYS optimization model.
* Minor fixes to new Time Slice setup wizard.

2011.030 8/16/2011

* Fixed occasional crashes during startup (previous fix in v29 did not fully address the problem).
* Improved generation of time slices. When using the Time Slices: Setup feature a new screen allows you to automatically generate and set the names for simple sets of time slices (those without seasonal/time of day information). You can also continue to use the more advanced wizard for generating sets of slices that do include seasonal/time of day information.

2011.029 8/16/2011

* Improved user variables: new option lets a user variable be specified only at the Key Variables branches.
* Improved HistoricalGrowth function to allow use of 4 year parameters.

2011.028 8/8/2011

* Fixed problems interpreting expressions referencing Excel spreadsheets. The problem caused an error message about LEAP being unable to find the specified spreadsheet file.
* Fixed issue where expressions edited in one of the helper wizards would be improperly discarded when moving to a new cell in the main data entry table.
* Fixed various other issues when editing/parsing expressions and improved operation of function editor.

2011.027 7/26/2011

* Fixed problem in calculations when load shapes are specified for each device.
* Improved performance of setup wizard in the General: Time slices screen.
* Various fixes to API.

2011.026 7/19/2011

* Fixed scaling factor problem with Key variables.
* Fixed expression parsing problem in complex “IF” expressions.
* Updates to LEAP API including more robust startup/shutdown of LEAP when under control of other programs.
* Fixed overviews in default Freedonia data set and revised list of favorite charts.

2011.025 7/8/2011

* Sample area (Freedonia) updated to use 2010 as base year and to properly reflect the assumptions and text in the latest training exercises.
* Fixed editing problems in Notes view.
* Fixed issue where LEAP would fail to start if root working folder was deleted.
* Improved behavior if Windows scripting languages missing.





Elastisitas Energi

16 04 2011

Elastisitas energi adalah perbandingan pertumbuhan konsumsi energi terhadap pertumbuhan produk atau keluaran (∆ konsumsi energi terhadap ∆ produk atau keluaran) [1]. Menurut [2], elastisitas energi yakni perbandingan pertumbuhan konsumsi listrik dengan pertumbuhan ekonomi. Semakin rendah angka elastisitas, semakin efisien pemanfaatan energinya. Elastisitas energi merupakan perbandingan antara pertumbuhan konsumsi intensitas energi terhadap GDP (Gross National Product) [3]. Secara matematik dapat ditulis dengan Persamaan berikut,

Elastisitas Energi = Pertumbuhan Konsumsi Energi (%)/Pertumbuhan PDB atau PDRB (%)

Dengan pertumbuhan ekonomi yang paling tinggi 5% per tahun dan pertumbuhan konsumsi listrik 6% per tahun, angka elastisitas energi Indonesia lebih dari 1,sedangkan rata-rata di negara maju berada di angka 0,5. Pertumbuhan ekonominya dua kali lebih tinggi dari pertumbuhan konsumsi listrik [2].

Referensi:

[1]   Penjelasan Pasal 19 ayat (1) huruf b PP no 70 tahun 2009 Tentang Konservasi Energi. 2009.

[2] Administrator. Konsumsi Listrik Boros. Berita. Diakses dari URL http://energialternatif.ekon.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=94&Itemid=51, 10 Juni 2008.

[3]   Wikipedia. Energy Elasticity. Encyclopedia. Diakses dari URL http://en.wikipedia.org/wiki/Energy_elasticity, 31 Desember 2009.





Proses Perencanaan Ketenagalistrikan

16 04 2011

Proses perencanaan ketenagalistrikan melingkupi 9 hal berikut [Pedoman Penyusunan Rencana Umum Ketenagalistrikan. Keputusan Menteri. 2003]:

1)      Perencanaan pemenuhan kebutuhan tenaga listrik diawali dengan proyeksi kebutuhan (demand) atau ramalan beban tenaga listrik untuk 15 (lima belas) tahun ke depan di setiap sektor pemakai tenaga listrik, yaitu sektor industri, komersial (bisnis), rumah tangga, sosial dan umum (publik) serta pemerintahan. Rencana pemenuhan kebutuhan tenaga listrik ini dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan ekonomi daerah setempat, program elektrifikasi dan mempertimbangkan kemungkinan pemanfaatan captive power kedalam sistem secara keseluruhan atau dari kelebihan suplai tenaga listrik yang tersedia. Ada berbagai model pendekatan untuk menyusun proyeksi kebutuhan tenaga listrik yang tersedia antara lain pendekatan ekonometrik, pendekatan proses, pendekatan time series, pendekatan end use, pendekatan trend maupun gabungan dari berbagai model pendekatan perencanaan.

2)      Perencanaan pengembangan pembangkitan (generation expansion planning) disusun berdasarkan asas optimasi atau biaya terendah (least total cost ownership) dengan memperhatikan ketersediaan sumber energi primer setempat, sifat ragam beban, beban puncak, teknologi/jenis pembangkitan, dan faktor eksternal lain yang perlu diperhatikan, seperti dampak lingkungan hidup dan dampak sosial. Metode optimasi biaya penyediaan tenaga listrik dan pemilihan teknologi pembangkit harus memperhatikan ketersediaan energi primer, biaya tetap dan biaya variable. Ada berbagai perangkat lunak yang dapat dipergunakan untuk proses optimasi penyediaan tenaga listrik antara lain piranti lunak Wien Automatic Sistem Planning (WASP). Piranti WASP ini dapat menghasilkan keluaran (output ) berupa jenis dan kebutuhan kapasitas pembangkit serta waktu operasi yang paling optimal untuk memenuhi kebutuhan tenaga listrik.

3)      Tingkat kehandalan dalam memenuhi kebutuhan tenaga listrik dengan adanya cadangan tenaga listrik yang memadai. Hal ini akan menjadi pertimbangan sebagai kriteria dalam perencanaan ketenagalistrikan. Tingkat cadangan atau kehandalan ini juga memperhatikan penalti ekonomi yang akan diterima masyarakat apabila terjadi pemadaman. Selain itu hendaknya mempertimbangkan faktor kebijakan setempat yang akan mempengaruhi biaya penyediaan dan tarif  tenaga listrik.

4)      Mengedepankan ketersediaan energi primer, terutama dari sumber energi baru dan terbarukan. Selain itu juga mempertimbangkan alternatif pilihan teknologi dan jenis pembangkitan agar dapat tercapai hasil yang optimal pada pemanfaatan potensi, efisiensi, keekonomian, dan dampak yang tidak merugikan terhadap lingkungan sehingga terjamin keberlanjutannya hingga kurun waktu yang dikehendaki.

5)      Pemanfaatan sumber energi setempat dan prioritas pemilihan aneka ragam energi yang tersedia dengan urutan prioritas energi terbarukan, bahan bakar gas, batubara, dan bahan bakar minyak.

6)      Perencanaan penyediaan tenaga listrik hendaknya diintegrasikan dengan perencanaan pemanfaatan energi pada sisi pemakaian tenaga listrik, sehingga program-program Demand Side Management, antara lain program pemanfaatan tenaga listrik untuk tujuan yang produktif dan program hemat energi lainnya merupakan bagian yang integral dari proses perencanaan ketenagalistrikan secara keseluruhan.

7)      Perencanaan pengembangan sistem transmisi dan distribusi hendaknya dilakukan selaras dengan keseimbangan antara kebutuhan dan kapasitas, berdasar pada kriteria perencanaan yang digunakan.

8)      Setelah dibuat proyeksi kebutuhan tenaga listrik suatu sistem tertentu, disusun prakiraan beban gardu induk yang memberi informasi pertumbuhan kebutuhan beban sesuai lokasi geografis gardu induk, dapat berupa penambahan kapasitas trafo atau pembuatan gardu induk baru, berikut kebutuhan fasilitas jaringan transmisi dan distribusinya.

9)      Bersama dengan pengembangan transmisi, dilakukan juga perencanaan distribusi. Metode yang dapat digunakan adalah menggunakan faktor elastisitas antara panjang Jaringan Tegangan Menengah (JTM) dan Jaringan Tegangan Rendah (JTR) dengan penjualan energi listrik, dan elastisitas antara penambahan pelanggan dengan trafo distribusi





Tingkat Kebutuhan Energi

16 04 2011

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kebutuhan Energi Listrik

Penggunaan tenaga listrik diperkirakan akan selalu meningkat setiap tahunnya. Hal ini dikarenakan oleh semakin berkembangnya kebutuhan masyarakat yang harus dipenuhi. Banyak faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kebutuhan tenaga listrik, seperti faktor ekonomi, kependudukan, kewilayahan, dan lain-lain. Menurut [Laporan Akhir Review Penyusunan Rencana Umum Ketenagalistrikan Daerah (RUKD) Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun Anggaran 2008. Laporan Penelitian, RUKD, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi Bidang Pertambangan dan Energi Pemerintah Propinsi DIY, Yogyakarta, 2008.] tingkat kebutuhan energi listrik dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut ini :

1)      Faktor Ekonomi

Faktor ekonomi yang mempengaruhi tingkat kebutuhan tenaga listrik adalah pertumbuhan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto). Secara umum, PDRB dapat dibagi menjadi 3 sektor, yaitu PDRB sektor komersial (bisnis), sektor industry dan sektor publik. Kegiatan ekonomi yang dikategorikan sebagai sektor komersial/bisnis adalah sektor listrik, gas dan air bersih, bangunan dan konstruksi, perdagangan, serta transportasi dan komunikasi. Kegiatan ekonomi yang termasuk sektor publik adalah jasa dan perbankan, termasuk lembaga keuangan selain perbankan. Sektor Industri sendiri adalah mencakup kegiatan industri migas dan manufaktur.

2)      Faktor Pertumbuhan Penduduk

Pertumbuhan penduduk memiliki pengaruh besar terhadap kebutuhan tenaga listrik selain faktor ekonomi. Sesuai dengan prinsip demografi, pertumbuhan penduduk akan terus turun setiap tahunnya sampai pada suatu saat akan berada pada kondisi yang stabil.

3)      Faktor Perencanaan Pembangunan Daerah

Berjalannya pembangunan daerah akan sangat dipengaruhi oleh tingkat perekonomian daerah itu sendiri. Dalam hal ini baik langsung maupun tidak langsung, faktor ekonomi sangat berpengaruh terhadap kebutuhan energi listrik seiring dengan berjalannya pembangunan. Pemerintah Daerah sebagai pelaksana pemerintahan di tingkat daerah akan mengambil peran penting dalam perencanaan pengembangan wilayah. Hal itu berbentuk kebijakan yang tertuang dalam berbagai produk peraturan daerah. Termasuk di dalamnya adalah perencanaan tentang tata guna lahan, pengembangan industri, kewilayahan, pemukiman dan faktor geografis.

4)      Faktor Lain-lain

Selain 3 faktor di atas, ada beberapa faktor lain yang mempengaruhi tingkat kebutuhan energi listrik di antaranya luas bangunan konsumen, tingkat pekerjaan, jumlah anggota keluarga dan lain-lain. Namun beberapa faktor tersebut hanya berpengaruh dalam kajian spesifik masing-masing sektor tarif dan bukan dalam skala makro.





WEAP (Water Evaluation And Planning)

22 05 2010

Hari ini, saya sedikit iseng dengan mengunjungi Official Website LEAP. Saya mengikuti beberapa diskusi di dalamnya. Sampai pada akhirnya ada salah satu pengguna LEAP menanyakan kepada moderator (Dr. Charles Heaps) mengenai potensi menggunakan LEAP untuk analisis dampak ekonomi dan lingkungan terhadap kebutuhan dan ketersediaan air. Kemudian secara lugas moderator menjawab bahwa LEAP hanya dapat digunakan untuk menganalisis energi dan mitigasi dampak lingkungan. Namun, yang menarik bagi saya adalah kalimat berikutnya dari Dr.Charles Heaps bahwa LEAP mempunyai ‘saudara perempuan’ yang mungkin sesuai untuk analisis evaluasi dan perencanaan mengenai air. Program tersebut bernama WEAP (Water Evaluation And Planning). Dari namanya memang mirip sehingga benar layak untuk disebut saudara dengan LEAP. Induk yang melahirkan juga sama yaitu Stockholm Environment Institute.

Rasa penasaran kemudian membawa saya kepada link yang diberikan moderator. WEAP merupakan sebuah program yang dapat digunakan untuk melakukan analisis tentang air permukaan, pemanfaatan, dan lain-lain. Namun, hingga saat ini masih dalam proses pengembangan agar mampu terhubung dengan LEAP agar analisis korelasi antara pemanfaatan air dengan energi dapat dilakukan. Sedikit informasi mengenai WEAP saya sampaikan berikut ini.

WEAP (“Water Evaluation And Planning” system) adalah perangkat lunak yang mudah digunakan untuk melakukan pendekatan terhadap perencanaan mengenai sumber daya air secara terpadu.


Tantangan dalam pengelolaan air bersih akhir-akhir ini menjadi umum dibicarakan. Alokasi sumber daya air yang terbatas membutuhkan pertimbangan yang matang dan terpadu antara kebutuhan, ketersediaan, kualitas air dan ekologinya dalam penggunaannya untuk pertanian, lingkungan dan  pemukiman. Water Evaluation and Planning system (WEAP), dimaksudkan untuk memasukkan isu-isu ini ke dalam sebuah alat simulasi praktis untuk melakukan perencanaan sumber daya air terpadu. WEAP dikembangkan oleh Stockholm Environment Institute’s U.S. Center.

WEAP Ikhtisar

Integrated Approach Unique approach for conducting integrated water resources planning assessments
Stakeholder Process Transparent structure facilitates engagement of diverse stakeholders in an open process
Water Balance A database maintains water demand and supply information to drive mass balance model on a link-node architecture
Simulation Based Calculates water demand, supply, runoff, infiltration, crop requirements, flows, and storage, and pollution generation, treatment, discharge and instream water quality under varying hydrologic and policy scenarios
Policy Scenarios Evaluates a full range of water development and management options, and takes account of multiple and competing uses of water systems
User-friendly Interface Graphical drag-and-drop GIS-based interface with flexible model output as maps, charts and tables

Tampilan WEAP

Sumber : http://www.weap21.org/








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.